Sabtu, 11 Februari 2017

Suatu Hari Ketika Kita Bukan Lagi Keluarga



Suatu Hari Ketika Kita Bukan Lagi Keluarga
Muhammad bin Ibadih al-Muwasshi, seorang ulama yang masyhur karena tradisinya menulis surat wasiat saat anaknya lahir, wafat sebelum anak pertamanya menikah. Meninggalkan keluarga beserta tiga surat wasiat yang disimpan istrinya. Untuk menunaikan wasiat itu, dan menghormati suaminya, sang Ibu meminta anak pertamanya yang menikah itu untuk membaca surat wasiatnya di depan hadirin. Agar mereka menjadi saksi bagi anaknya yang dinasehati seorang ayah yang telah berada di alam kubur. Meski sang Ibu tidak tahu isi surat wasiat itu, dan apakah wasiat itu pantas didengar hadirin ataukah tidak. Dia bersangka baik bahwa surat wasiat yang ditulis seorang ayah untuk anaknya tentu perkara yang baik.
“Anakku, engkau adalah penenang jiwaku, pada saat engkau lahir membawa cahaya iman. Namun, aku dan ibumu sebagai orang tuamu, tidak mampu menjamin dirimu akan menjadi baik, ataukah engkau bersanding dengan yang baik, hingga meninggal di akhir yang baik. Jika jaminan itu tak kau dapatkan dari kami, maka temukanlah anakku, di dalam dirimu, di dalam uswah nabimu, di dalam kitab sucimu.
Hingga aku meninggal, sungguh engkau masih anak kami. Dan semoga engkau masih mengakui kami orang tuamu, masih mendoakan kami. Namun, suatu hari nanti, hari yang pasti, mungkin tiada lagi pertalian nasab di antara kita. Tak ada yang dapat kita banggakan, kita tidak saling bertanya, canda, sapa, seperti ketika kita masih di dunia. Aku dan ibumu mungkin disibukkan dengan kengerian diri kami. Betapa Allah telah mengingatkan kita tentang ini anakku.
فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلَا أَنسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَتَسَاءَلُونَ.  
“Apabila sangkakala ditiup Maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.”
            Pada hari itu, sungguh, mungkin aku lari dari ibumu, dan ibumu lari dariku, dan engkau berlari dari kami, juga saudara yang dulu kalian sekandung. Sekalipun ibumu yang meronta menangis mengharapkan pertolonganmu, engkau tidak akan bergeming. Mungkin nanti kita sudah saling lupa. Hari itu adalah hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari teman hidupnya, istrinya, dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka, pada hari itu, mempunyai urusan yang menyibukkan.
يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ. وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ. وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ. لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ.  
“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.”
            Aku takut bila benar itu terjadi padaku atasmu, anakku. Suatu hari yang pada hari itu seorang bapak tidak dapat menolong anaknya, dan seorang anak tidak dapat menolong bapaknya, sedikitpun.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَّا يَجْزِي وَالِدٌ عَن وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَن وَالِدِهِ شَيْئًا.
“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun.”
            Maka selagi aku dan ibumu masih orang tua kalian, hari ini, lakukanlah kebaikan-kebaikan kepada ibumu, kepada saudara kandungmu, selagi engkau masih bisa, selagi engkau masih mampu, selagi kami masih orang tuamu. Dan apabila engkau telah menikah dan berkeluarga, seperti sejak engkau membaca surat ini, berbuat baiklah sebaik-baiknya kepada istrimu dan anak-anakmu. Mungkin istrimu bukan istrimu lagi, di hari yang past itu, dan mungkin anakmu bukan anakmu lagi. Sebelum nanti, engkau sebagai suami dan ayah, tak mampu berbuat baik lagi kepada mereka, menolong mereka, di suatu hari yang memaksamu untuk lupa dari mereka, berlari dari mereka.
            Akhir wasiatku, setelah engkau menikah, berjanjilah untuk memperjuangkan imanmu, iman istri dan anak-anakmu. Sebab, hanya itu anakku, yang mempertalikan kita kembali sebagai satu keluarga seperti sediakala kita pernah sementara disatukan di dunia.
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ.
“Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.”
         Anak itu masih terus berjuang menyelesaikan membaca surat wasiat. Sementara tubuhnya bergetar, dan air matanya jatuh deras di kertas. Istrinya, ibunya, dan seluruh hadirin menangis, dan mereka bertahan tetap mendengar, meski sebenarnya mereka sudah tidak sanggup.

Kamis, 15 Desember 2016

Makalah Ulumul Qur'an: Aqsam Al-Qur'an

Makalah Ulumul Qur'an: Aqsam Al-Qur'an

Doa Sederhana Setelah Shalat Fardhu



1.    Doa yang diajarkan oleh Rasulullah Ṣalla Allah ‘Alaihi wa Sallam kepada Sayyidah ‘Aisyah.
عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، عَلَّمَهَا هَذَا الدُّعَاءَ: " اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ، عَاجِلِهِ وَآَجِلِهِ مَا عَلِمْتُ مِنْهُ، وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ مِنْهُ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ تَقْضِيهِ لِي خَيْرًا."
2.    Doa Agar Khusnul Khatimah (baca do'a ini diantara sholat sunnat qobliyah subuh dan sholat subuh secara istiqamah)
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِاُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَللَّهُمَّ ارْحَمْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَللَّهُمَّ اسْتُرْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَللَّهُمَّ اجْبُرْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمِّدٍ اَللَّهُمَّ عَافِ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَللَّهُمَّ احْفَظْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اَللَّهُمَّ ارْحَمْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَحْمَةً عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لاُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ مَغْفِرَةً عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اَللَّهُمَّ فَرِّجْ عَنْ أُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فَرْجًا عَاجِلاً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
3.    Doa Ketika Menghadapi Kesulitan
Dalam sebuah riwayat yang  disampaikan Abdullah bin Mas’ud, beliau berkata: “Rasulullah SAW. bersabda: “Maukah kalian aku ajarkan beberapa kalimat yang telah diucapkan oleh Nabi Musa AS. ketika beliau mengarungi lautan bersama Bani Israil ?”
Lalu kami berkata: “tentu ya Rasulullah.”
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ: «أَلَا أُعَلِّمُكَ الْكَلِمَاتِ الَّتِي تَكَلَّمَ بِهَا مُوسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ حِينَ جَاوَزَ الْبَحْرَ بِبَنِي إِسْرَائِيلَ؟» , فَقُلْنَا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: " قُولُوا: اللَّهُمَّ، لَكَ الْحَمْدُ وَإِلَيْكَ الْمُشْتَكَى، وَأَنْتَ الْمُسْتَعَانُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ.
4.    Doa Syaikh Abu Bakar bin Salim (Hadramaut)
اَللّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ شُكْرًا وَلَكَ الْمَنُّ فَضْلاً وَاَنْتَ رَبُّنَا حَقاًّ وَنَحْنُ عَبِيْدُكَ رِقاًّ وَاَنْتَ لَمْ تَزَلْ لِذَا لِكَ اَهْلا.ً يَا مُيَسِّـرَ كُلِّ عَسِـيْرٍ وَيَاجَابِرَ كـُلِّ كَسِيْـرٍ وَ يَا صَاحِبَ كُلِّ فَرِيْدٍ وَيَامُغْنِيَ كُلِّ فَقِيْرٍ وَيَامُقَوِّيَ كُلِّ ضَعِيْفٍ وَيَامَؤَمِّنَ كُلِّ مَخِيْفٍ، يَسِّرْ عَلَيْنَا كُلَّ عَسِيْرٍ، فَتَيْسِيْرُ الْعَسِيْرِ عَلَيْكَ يَسِيْرٌ.اَللّهُمَّ يَامَنْ لاَيَحْتَاجُ اِلَى الْبَيَـانِ وَالتَّفْسِيْرِ حَاجَاتُنَا كَثِيْرٌ، وَاَنْتَ عَالِمٌ بِهَاوَخَبِيْرٌ.
5. Doa agar Diberikan Kebaikan dan Dijauhkan dari Fitnah
اللهُمَّ اِنِّىْ اَسْأَلُكَ بِحَقِّ الفاتِحَــــــــةِ المُعَظَّمَةِ وَالسَّبْعِ الْمَثَانىْ اَنْ تَفْتَـحَ لَنَا بِكُلِّ خَـــــيْرٍ وَاَنْ تَتَفَضَّلَ عَلَيْنَا بِكُلِّ خَيْرٍ وَانْ تَجْعَلَـــنَا مِنْ اَهْــلِ الْخَيْرِ وَاَنْ تُعَامِلَــنَا مُعَامَلَتَكَ لِاَهْلِ الْخَيْرِ، وَاَنْ تَحْفَظَنَا فِىْ اَدْيَانِنَا وَاَنْفُسِنَا وَاَوْلاَدِنَا وَاَهْلِنَا وَاَصْحَابِنَا وَاَحْبَابِنَا مِنْ كُلِّ مِحْنَةٍ وَفِتْنَةٍ وَبُؤْسٍ وَضَيْرٍ، اِنَّكَ وَلِيُّ كُلِّ خَيْرٍ وَمُتَـفَضِّلٌ بِكُلِّ خَيْرٍ وَمُعْطٍ لِكُلِّ خَيْرٍ يَآ اَرْحَمَ الرَّاحِمِينْ.